Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tangis Keluarga Saat Menerima Sertifikat Kematian Korban Bencana

SERAHKAN - Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta menyerahkan sertifikat kematian Nabila Salsabila, 17 tahun, putri kandungnya Wilna Susri dan Afrizul di RS Bhayangkara. (lenggogeni)


Oleh : Lenggogeni/Deri Oktazulmi

PADANG - Wilna Susri dan Mardiana tak kuasa menahan air mata usai menerima sertifikat kematian keluarganya korban banjir badang Sumbar, dari  Tim Disaster Victim Identification Polda Sumatera Barat (DVI Polda Sumbar), Senin (15/12/2025). 

Bulir-bulir tangisan mengalir dengan spontan di pipinya, Wilna Susri. Begitu juga sang suami, Afrizul yang setia di sisinya.  Badannya tiba-tiba lunglai usai Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta menyerahkan sertifikat kematian anak kandungnya Nabila Salsabila, 17 tahun. Petugas DVI dengan sigap membantunya agar tak jatuh. Kenyataan pahit itu harus mereka terima dengan penuh keikhlasan. Isak tangis tak dapat terbendung lagi.  

Kejadian banjir bandang di Salareh Air Pusat, Kayu Pasak Sawah Laweh, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis sore itu (27/12) membuatnya bersama suami dan tiga anaknya terpisah. 

"Kejadiannya, sore itu begitu cepat dan secara tiba-tiba. Air bah marah besar menghondoh rumah. Kami sekelurga terpisah. Saya hanya bisa menyelamatkan putra bungsu kami. Nabila Salsabila dan ibu serta kakaknya menyelamatkan diri masing-masing. Kami terpisah, istri saya, Nabila Salsabila dan putra tertua kami," cerita  Afrizul mengenang kejadian sore kelabu yang memisahkannya dengan putri satu-satunya, Nabila Salsabila. 

Ketika kejadian itu, listrik padam, komunikasi pun terputus. Air bah pun mereda. Wilna Susri dan Afrizul bertemu dua anaknya yang selamat. Putra sulung ditemukan setelah terjebak dua hari dalam mobil. 

Si cantik semata wayang tak berhasil ditemukan. Mereka terus mencari keberadaan putri yang sangat mirip sang bapaknya. Fotonya pun disebarkan melalui media sosial. 

Nun jauh di Padang, jasad Nabila Salsabila ditemukan di Agam. Tim DVI Agam langsung membawanya ke RS Bhayangkara untuk diidentifikasi lebih lanjut. Jasadnya tak dikenali lagi. Tepat, 9 Desember, Nabila Salsabila bersama 23 jasad lainnya, tak diketahui keluarganya pun dikuburkan secara massal di TPU Bungus. Namun, pihak DVI Polda Sumbar sudah melakukan identifikasi baik itu secara antemortem maupun postmortem. 

Walaupun sudah dikuburkan, pihak DVI Polda Sumbar masih menyimpan data-data jenazah yang di kuburkan secara massal itu. 

Di Palembayan sana, Wilna Susri bersama suami Afrizul tak henti-hentinya mencari anak gadisnya yang mereka sayangi. Karena, keterbatasan komunikasi di Palembayan, Wilna Susri dan Afrizul hanya mencari seputaran kampungnya. 

Mukijat itu datang. Berkat doa-doa dan pengharapan dihaturkan kepada sang pencipta, ada sebuah sekolah memberitahukannya informasi untuk mencari informasi RS Bhayangkara. 

Sampel DNA mereka pun dicocokan. Ternyata benar, salah satu jenazah yang dikuburkan itu anak mereka, Nabila Salsabila. 

"Kami ingin, jenazah anak kami dikuburkan di kampung halaman, Pasaman," harap Afrizul dan Wilna Susri yang ingin anak mereka yang mereka cintai dimakan secara layak . 

Keinginan itu dikabulkan. Tim DVI Polda Sumbar pun mengantarkan jenazah Nabila Salsabila sesuai permintaan keluarga. Di raut wajah Afrizul dan Wilna Susri tak bisa disembunyikan duka yang mendalam. Pencarian berhari-hari membuahkan hasil. Walaupun pahit, tapi itu kenyataannya. Putri sudah berada di surga. 

"Kami baru tiga tahun balik ke kampung. Setelah menikah, kami merantau ke Jakarta dan memiliki tiga orang anak. Sejauh-jauhnya merantau, pasti akan balik ke kampung. Itulah kami lakukan. Kami mendirikan rumah tahfiz dan PAUD," kata Afrizul berkisah tentang kehidupannya barunya di kampung. Ternyata itulah jalan takdir yang harus mereka jalani. 

Hal serupa pun dirasakan Mardiana. Ia tak kuasa menahan air mata kesedihan. Banjir bandang sore itu, ia terpisah dari keluarganya.  

Setelah berhari-hari menunggu dalam ketidakpastian identitas, Mardiana harus menerima jawaban pahit dengan penuh keikhlasan. 

Isak tangis tak dapat ia bendung lagi, ketika nama Aliah sang ibu dan Rizki Muhammad Akbar anak kandung dipanggil. Kenyataan itu, ia menerima surat sertifikat kematian kedua orang yang amat dicintainya itu. 

"Satu lagi keluarga kami yang belum ditemukan, kakak ipar saya," kata Mardiana dengan mata berkaca-kaca ketika di tanya Kapolda Sumbar, Gatot. 

Ke RS Bhayangkara, Mardiana didampingi, Petugas dari Puskesmas Singkarak. "Rencananya, permintaan keluarga, Aliah dan Rizki Muhammad Akbar akan dimakan di Kabupaten Solok," ucap Devi mendamping Mardiana untuk mengurus semua keperluan pengambilan jenazah yang telah dikuburkan di TPU Bungus. Keduanya, kuburan jenazah Aliah dan Rizki Muhammad Akbar akan segera dipindahkan ke Kabupaten Solok. 

Duka mendalam pun dirasakan empat keluarga lainnya, yang identitas orang mereka sayangi diidentifikasi. Yakni, Nurlisma harus menerima kenyataan pahit kalau anak kesayangannya, Iwan Setiawan Ilham sudah meninggal dunia. Demikian juga Mulyadi yang harus kehilangan sang ibunda, Maryunis (Yunih). 

Rasa duka mendalam pun harus diterima Jesmanel ketika hasil DNA-nya cocok dengan salah satu korban banjir bandang yang dimakamkan secara massal di TPU Bungus, Pik Adih. 

Keenam korban banjir bandang tanpa identitas tersebut sudah dimakamkan di TPU Bungus. Ternyata, ada keluarga yang melaporkan kehilangan. Hasil sampel DNA mereka cocok, keputusan akhir diserahkan keluarga. Polda Sumbar pun sertifikat kematian kepada keluarganya korban banjir badang Sumbar. Ada yang membawanya ke kampung halaman untuk dimakamkan kembali. (*)

Post a Comment for "Tangis Keluarga Saat Menerima Sertifikat Kematian Korban Bencana"